Kamis, 30 Juni 2016

Review The Chronicles of Audy: O2

Hi! Buku ini aku beli hari Minggu, 26 Juni 2016. Aku suka banget sama cerita dalam buku ini, sehingga aku tertarik untuk ngebuat review nya :D I hope you enjoy it!


O2 adalah seri terakhir dari The Chronicles of Audy yang pertama kali aku baca dari keempat serinya. Awalnya, aku kira ini novel terjemahan karena dari nama penulisnya nama Jepang gitu, eh ternyata nama pena hehe.

Walaupun aku belom pernah baca seri yang sebelumnya, aku bisa tahu karakter tiap tokoh secara detail melalui penyampaian dalam cerita. Jadi menurut aku kamu bisa baca seri buku ini secara tidak berurutan. Tapi, lebih baiknya baca secara urut sih, biar lebih ngeh. Yaa, rencananya kalo ke toko buku lagi mau cari seri-seri yang sebelumnya, biar punya lengkap! :D

Audy
Dia tokoh utama dalam cerita ini. Dia mahasiswi HI UGM. Aku suka karakternya karena dia itu kayak menggambarkan 'aku' banget gitu. Audy ini bener-bener kayak cara bicara di kehidupan sehari-hari, sehingga aku bisa ngebayangin kalau novel ini di film kan atau bahkan mungkin benar-benar ada di kehidupan nyata.

Regan
Kakak tertua dari 4R. Dia menurut aku ke-bapak-an banget sih, benar-benar definisi kakak cowok yang bisa diandalkan B-) Regan itu sayang banget sama adik-adiknya, sweet sama Maura (istrinya), yaa gitu deh. Dua kata yang menggambarkan Regan adalah family man.

Romeo
Dia anaknya paling lucu sih diantara 4R. Suka ngebanyol gitu, jadi aku ketawa pas ngebacanya. Di novel ini, walaupun Romeo kelihatan paling santai-kayak-dipantai hidupnya, tapi sebenernya dia itu such a warm-heart guy. Seru deh pas bagian Romeo mencurahkan isi hatinya, mau tahu apa? Baca novelnya! :p

Rex
Ini nih pacarnya si tokoh utama. Anak umur 17 tahun, baru aja lulus SMA, dan bakal lanjut kuliah ke luar negeri. He's such a boyfriend material. Pinter, cakep, jenius, ngerti segala hal, cool, kalem. OMG :') Kalo Rex ada beneran, aku mau sih haha, cuma mungkin dia harus lebih humoris ;)

Rafael
Dia mirip-mirip sama Rex. Masih 5 tahun tapi cerdas banget, beda dengan anak-anak lain seusianya. Rafael punya daya tangkap yang cepat dan dia ngomongnya kayak udah orang gede gitu. Kalau punya anak kayak Rafael mau deh, wkwk xD

Nah, tentang cerita novel ini, aku review secara garis besar ya, takut malah menceritakan isinya hehe.

Di O2, Audy menceritakan kegalauannya terhadap beberapa hal. Skripsi, Rex, dan cita-citanya. Si penulisnya, Orizuka, bisa menuturkan cerita melalui si Audy ini secara sederhana. Nggak bertele-tele. Jadi kamu nggak perlu mikir keras dalam membaca buku ini. Walaupun simple, tapi isinya super deh. Beberapa amanat bisa kamu ambil dari novel ini.

Ohya, bagian yang paling aku suka sih pas Rex romantis gitu deh sama Audy haha. Bacanya sampai aku ulangi beberapa kali dan senyum-senyum terus! :D Terus pas Rex sama Rafael barengan, cute bromance!

Kira-kira gitu deh review nya, semoga cukup meyakinkan kamu untuk beli novel ini ;)

July 2016

Wohoo! Awal bulan nih, pada gajian dong ya? Jangan lupa bagi-bagi THR nya ya! xD

Nggak kerasa juga puasa tinggal beberapa hari lagi, terus lebaran deh. Siap-siap dompet tebel :D

Liburan sekolah kali ini cuma di rumah aja. Cukup bosan.

Ohya, pas rapotan kemarin alhamdulillah dapet ranking 3! Dulu pertama kali ranking 3 itu waktu kelas 1 SD, haha! Lumayan kaget sih, haha, nggak expect bakal dapet 3 besar hihiw ;)

Bulan Juli ini aku bakal mulai memasuki my senior year! OMG, bener-bener senior year, kelas 12 SMA. Tahun terakhir jadi anak sekolahan yang pake seragam tiap hari. Aku nggak tahu harus seneng atau sedih.

Yaa, namanya juga udah kelas 12, keluarga mulai pada tanya: mau kuliah dimana?

Jujur aja, kalo keinginanku di UI, tepatnya Psikologi UI. Entah kenapa aku pengen banget! Apa nggak yaa di psikologi UGM. Aku masih belum punya pilihan lain selain psikologi. Dulu awalnya pengen HI, cuma terus aku masih memikirkannya. Mematangkan lagi pilihanku.

Dan aku berharap banget masuk di prodi dan PTN idamanku melalui jalur SNMPTN, semoga Engkau kabulkan ya Allah, aamiin :) Biar nanti aku nggak ribet mikir-mikir lagi, nggak nyusahin bapak-ibu, dan bikin bangga! Semoga tercapai ya Allah, aamiin.

Sekarang sih masih bingung kalo ditanya siapa aja 'mau kuliah dimana?'. Sebenernya sih nggak bingung, cuma masih aku pertimbangkan. Soalnya kadang ibu masih memperdebatkan gitu deh, jadi aku masih mikir-mikir berbagai hal yang nantinya bakal aku ambil.

Yeah, i hope my last year in school are going great and memorable ;)

Rabu, 01 Juni 2016

Kamu dan Pelangi



Hujan.
Awal hal yang selalu mengingatkanku tentangmu. Bukan, bukan tentang hujan. Tetapi tentang pelangi yang muncul usai hujan. Sembari menunggu muncul pelangi, menghirup petrikor memang hal yang menyenangkan. Katamu, kalau ada parfum dengan aroma seperti ini, kamu pasti akan membelinya dan tidak mau membaginya denganku.
*
“Ra, keluar rumah!”
            Sayup-sayup terdengar suara seseorang yang tengah memanggilku dan menyuruhku untuk keluar rumah. Kutengok melalui jendela untuk melihat siapa yang memanggilku.
            “Adit! Tunggu!” balasku.
            Aku bergegas ke lantai bawah dan menyusul Adit yang sudah duduk manis di ayunan depan rumahku.
            “Ada apa?” tanyaku seraya duduk di sampingnya.
            “Bentar lagi hujan!” katanya riang.
            “Apa sih istimewanya hujan?” omelku.
            “Kalau lagi hujan kita bisa hujan-hujanan, ngehirup petrikor. Terus abis itu lihat pelangi deh,” jelasnya.
            “Kamu cowok kok seneng pelangi sih? Aku aja yang cewek biasa aja.”
            “Pelangi itu keren, istimewa. Cuma muncul kalau habis hujan,” kata Adit. “Tapi enggak tahu juga sih, selalu muncul apa enggak.”
            Aku mencerna kata-kata yang keluar dari mulut cowok ini. Benar juga ya.
            Sore itu aku menuruti keinginan Adit untuk hujan-hujanan, menghirup petrikor, kemudian melihat pelangi dengan baju yang basah. Melihat Adit begitu bahagia menikmati semua ini, membuatku diam-diam tersenyum. Bahagia memang sederhana.
*
Rivaldi Adnan.
            Nama panggilannya sebenarnya adalah Valdi. Entah kenapa hanya aku yang memanggilnya Adit. Kata ibu, waktu kecil aku sulit mengatakan Valdi, sehingga aku memanggilnya Adit.
            Adit itu teman rumah, teman sekolah, sahabat, juga keluarga. Sejak aku kecil hingga sekarang, bisa dibilang sebagian besar hidupku kuhabiskan dengan dia. Selain bertetangga, orangtuaku dan dia kebetulan bekerja di tempat yang sama dan sering berpergian. Sehingga aku sering tinggal bersama Adit dengan Kak Fara, kakaknya Adit.
            Ohya mengenai hobi Adit melihat pelangi, ya, itu sudah dari kecil. Aku enggak tahu kenapa dia suka banget lihat pelangi. Katanya waktu kecil, “Pelangi itu cantik, kayak kamu.” Aku enggak tahu dia mengucapkannya sungguh-sungguh atau hanya untuk merayuku menemaninya melihat pelangi. Aku pikir, itu kan waktu masih kecil, pasti dia enggak mengucapkannya dengan sungguhan.
*
Akhir-akhir ini hujan jarang turun. Akhir-akhir ini juga Adit jarang terlihat. Di rumah maupun di sekolah. Aku enggak tahu apakah dia lagi ke luar kota atau gimana. Dia enggak memberikan kabar apapun.
            “Spada!”
            Aku beranjak dari sofa dan membuka pintu rumah.
            “Ini mbak, ada kiriman bunga,” katanya sambil memberikan sebuket bunga mawar biru dan putih. “Tolong tanda tangan disini, ya.”
            Setelah menandatangani tanda terima, kupandangi mawar ini. Dari siapa?
*
Untuk Aira dari Adit
Hai, apa kabar, Ra? Aku harap kamu baik-baik saja. Maaf ya, aku menghilang. Aku enggak ngabarin kamu.
            Ohya, gimana mawarnya? Suka? Mawar biru itu melambangkan kekaguman, mengekspresikan cinta akan pandangan pertama. Sedangkan mawar putih melambangkan cinta dan persahabatan sejati.
            Kamu masih ingat nggak, waktu kecil aku pernah bilang kamu cantik? Aku harap kamu nggak menganggapnya bercanda, haha.
            Aira, mungkin ketika hujan berikutnya datang dan pelangi muncul, itu pertama kalinya aku akan menikmatinya sendiri, begitu juga kamu. Mungkin akan terasa berbeda, kurang, atau aneh. Mungkin ketika hujan turun, air mataku pun ikut turun. Mungkin ketika pelangi muncul, tak akan seindah ketika aku bersamamu. Tapi, ini semua masih mungkin, kan? J
            Suatu saat nanti pasti kita akan bertemu lagi (kalau jodoh, haha! Aku harap sih begitu). Sampai jumpa!
Dari Adit yang sayang Aira
*
Tidak terasa air mataku menetes. Mata ini memanas. Hatiku sakit. Kenapa kamu pergi begitu aja, Dit? Di suratmu ini pun, kamu nggak ngejelasin kenapa kamu pergi dan kemana kamu pergi. Kenapa?!
            Duniaku terasa runtuh begitu saja. Tidak hanya runtuh, tetapi juga menjadi serpihan-serpihan yang tak tersisa.
*
Pelangi.
Kupejamkan mata untuk menahan air bah yang akan tumpah. Mengingat masa kecil kita. Mengingat kembali segala percakapan yang kita ucapkan. Mengingat bagaimana kamu sangat bahagia ketika pelangi muncul.
            Kubuka mataku untuk melihat pelangi di ujung sana. Kemudian melihat ayunan di depan rumahku. Kosong. Sama seperti hatiku.
Adit, walaupun kita enggak melihat pelangi bersama untuk sekarang ini dan entah sampai kapan, aku harap kamu akan selalu mengingatku ketika melihat pelangi. Enggak usah tanya apakah aku akan mengingatmu atau tidak, karena kamu akan selalu ada di hati aku.

Minggu, 06 Maret 2016

2016

Yap, sudah 2016! Haha, cepet banget ya. Dah lama juga nggak nulis di blog, maaf yaa sibuk sekolah nih.

Jadi aku bakal ceritain secara singkat ya dari bulan Januari sampai Maret 2016 ini, yang nggak sempet aku tulis.

Januari
Dari awal masuk sekolah udah nggak fokus soalnya udah excited banget mau ke Bali. Walaupun ini ketiga kalinya ke Bali, yang bikin nggak sabar itu ini kan perginya sama temen-temen pasti bakalan gila wkwk. 

Alhamdulillah bus 3 anaknya seru dan enak, jadi bener-bener menikmati perjalanannya, nggak kerasa capek.

Pas di Bali nya juga enak. Ohya, di Bali juga pertama kalinya ke Starbucks wkwk Pas disana aku males naik-naik banana boat atau apalah, males aja soalnya ntar kalo basahlah, ribet. Pokoknya pas Januari itu masih Bali Vibes banget, heboh ngomongin ini-itu, uang jajannya habis buat belanja, heboh di pasar tawar-menawar, macem-macemlah. 

Ohya pas disana aku termasuk jarang foto, mungkin juga dah bosen ke tempatnya itu-itu aja kali ya. Kecuali pas ke Monumen Bajra Sandhi, nah itu aku belom pernah kesana. Bagus, kayak candi-candi gitu :D Terus pas ke Joger juga seru, keren banget kata-katanya wkwk Tapi yang paling nggak enak pas antre mau bayar, sedikit rempong emang. 

Di GWK

Breakfast

Pantai Kuta

SST Girls

Starbucks for the first time haha!

Monumen Bajra Sandhi

Tanah Lot

Monumen Bajra Sandhi (02)

Bajra Sandhi tampak depan, keren!

Kece abis!


Nice view

Februari
Lupa tepatnya tanggal berapa, kan pas itu kebetulan olahraganya Bulutangkis. Terus aku mainnya lumayanlah, terus disuruh ikut O2SN sama guruku. 

Awalnya aku semangat banget, lama-lama ragu. Soalnya dulu kan dah pernah lomba bulutangkis pas 2011, lawannya ngeri ngerong! Tapi yaudinlah, sudah terlanjur, hadapi saja.
Tanggal 18 aku lomba deh. Pas main pertama menang, tapi pas main yang kedua kalah wkwk Yaa, setidaknya sudah mencoba ;)

Maret
Dari awal maret sampai sekarang aku nulis ini nih masih libur gara-gara kakak kelas 12 UAS. Ada enak sama enggaknya sih kalo liburan gini. Enaknya nggak mikir pelajaran walaupun masih ada tugas but its not a big deal, enggak enaknya itu bingung di rumah ngapain, nggak ada orang. Paling cuma makan, tidur, youtubing, gitu doang. Tapi aku tetep ngeringkes pelajaran sama ngerjain LKS dong :D

Ya kira-kira gitu deh cerita singkat selama 2,5 bulan ini. 
Semoga aku lebih produktif lagi ke depannya, aamiin :D

Senin, 28 September 2015

Kutemukanmu

Tita
Kurasa pagi ini cukup cerah. Matahari bersinar begitu benderang dan membuatku kepanasan. Ya, pagi ini Mikha berangkat lebih awal dan enggak bilang apapun sama aku, enggak seperti biasanya. Jadilah aku berangkat sekolah sendirian deh, jalan kaki. Kalau ada Mikha kan, bisa bareng naik sepeda.
            Di tengah peluh yang menderas, kulihat mobil Mada sedang melintas. Segera aku berlarian mengejarnya.
            “Mada!”
            “Eh, elo. Sini naik,” kata Mada sembari keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil sisi kiri untukku.
            “Aduh, lo penyelamat banget Mad,” ujarku. Kuambil dua lembar tisu di dashboard untuk membersihkan wajahku yang berkeringat ini.
            “Biasanya sama Mikha. Kemana itu anak?” tanya Mada, melirikku sekilas.
            “Nah, itu Mad. Gue udah siap nungguin dia, enggak dateng-dateng coba. Akhirnya gue datengin rumahnya, terus kata Tante Nay, dia udah berangkat dari tadi! Nyebelin banget nggak sih?” omelku panjang lebar.
            “Enggak sih, biasa aja,” komentar Mada cuek.
            “Ih orang gue cerita, di iyain aja ngapa sih.”
            “Iya deh, jangan marah dong,” pinta Mada.
            “Terus gue sebenernya paling betenya nih di bagian dia enggak bilang apa-apa sama gue perihal ini. Telepon atau sms deh kan bisa, jadinya kan gue enggak usah nunggu terus bisa telepon lo minta jemput.”
            “Yaelah Ta, lo pikir gue supir. Sama Reuben kan juga bisa,” Mada protes sambil mengacak-acak rambutku.
            “Ih, jangan gitu dong, udah rapi juga,” aku merapikan rambutku. “Gue enggak kepikiran nelepon Ben. Biasanya emang gimana sih?” kataku sambil menjulurkan lidah.
            “Oke, emang biasanya gue jadi supirnya lo dan dua cowok tengil itu. Omong-omong, Mikha harus banget ya ngabarin lo?”
            “Haruslah! Gue kan...”
            “Hayo, lo siapanya?” pancing Mada sambil senyum-senyum enggak jelas.
            “Ya, gue sahabatnya dong. Gue juga khawatir kali dia kenapa-kenapa,” jawabku. Aku memalingkan wajah ke jendela untuk menutupi pipiku yang tiba-tiba memerah.

            “Oh gitu ya, hehe,” tanggap Mada usil.
*
Tita
            Memasuki gerbang sekolah, Mada mencari tempat yang masih kosong untuk memarkir mobilnya. Karena sudah agak siang, parkiran lumayan penuh.
            “Lo turun dulu aja, gue muter-muter nyari tempat parkir soalnya,” perintah Mada.
            “Oke kakak. Semangat ya cari parkirannya, makasih juga tumpangannya!” kataku. Kulihat Mada hanya mendengus kesal, dia emang selalu begitu.
            Usai turun dari mobil, aku bergegas menuju kelas Ekonomi 2, kelasku pada jam pertama.
            “Tita!”
            Aku menoleh ke belakang. Kudapati Reuben tersenyum kemudian menghampiriku.     
            “Lo jam pertama Ekonomi 2 kan? Kita kelas bareng, gue sama lo ya,” kata Reuben sembari merapikan kerahnya.
            “Oke, siap. Eh, lo kok ganteng banget sih pagi ini,” pujiku jujur.
            Reuben tersenyum lagi, lebih manis. “Apa sih Ta, gue emang ganteng. Lo nya aja enggak pernah nyadar.”
            “Ah elu mah, dipuji beneran malah narsis, dasar,” ujarku sewot.
            “Iya Sayang, jangan ngambek dong, nanti manisnya hilang,” goda Reuben, senyum-senyum di depan wajahku.
            “Idih, panggil-panggil sayang. Siapa lo? Siapa gue? Hah?”
            “Ah, lo lagi badmood ya?” Reuben mulai menginterogerasi, mendeteksi keanehan pada diriku.
            “Ya gitu deh, Ben.”
            “Kenapa? Cerita sama gue,” Reuben menggandeng tanganku, kemudian duduk di kursi koridor.
            “Mikha berangkat sekolah awal enggak ngabarin.”
            “Udah? Gitu doang?” tanya Reuben heran.
            “Intinya sih gitu. Untungnya tadi waktu di jalan ketemu Mada, ya udah numpang deh,” ceritaku.
            “Kenapa enggak telepon gue? Kan bisa gue jemput,” tanya Reuben.
            “Hehe, maaf Ben, gue enggak kepikiran elo,” jawabku polos. Sekilas mimik wajah Reuben berubah.
            “Oh, gitu ya,” timpal Reuben. “Tadi gue lihat Mikha kok, sama cewek.”
            DEG!
            Seketika jantungku berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Cewek? Dia sama siapa? Aduh...
            “Siapa?” tanyaku singkat.
            “Kurang tahu, tapi kayaknya anak baru deh. Mikha kan tukang nganterin anak baru di sekolah,” jawab Reuben.
            “Cantik nggak, sih?”
            “Kan gue udah bilang, gue kurang tahu. Kalau pun dia cantik, enggak bakal secantik elo, Ta,” rayuan gombal Reuben mulai muncul lagi.
            Pipiku merona merah.
            “Cie baper, hahaha. Tapi beneran, apa yang gue bilang tadi enggak bohong,” jelasnya.
            Teng! Teng!
            Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi. Aku dan Reuben mempercepat langkah menuju kelas yang masih beberapa meter lagi.
            Reuben menggandeng tanganku.
*
Mikha
“Kamu pindahan dari mana?” tanyaku sambil berjalan menuju kelas.
            “Aku dari Bandung,” jawabnya singkat.
            Anak baru ini namanya Kanya Kavarisa, begitu yang aku baca dari name tag yang ia kenakan. Nama yang manis, seperti orangnya, kurasa.
            “Ini jam pertama kamu di Ekonomi 2, bareng aku. Nanti kalau masih bingung tentang jadwal kelasnya, hubungin aku aja,” kataku sambil memberikan kartu namaku.
            “Mikha Angelo,” bacanya. “Nama kamu bagus, Mik.”
            “Haha, bisa aja kamu. Ya udah yuk ke kelas, udah bel masuk,” ajakku.
*
Tita
Kelas masih ramai karena Pak Adit belum datang. Tapi, kelas tiba-tiba menjadi diam seketika. Mikha masuk kelas. Bukan, bukan dia yang menjadi pusat perhatian, tetapi gadis di belakangnya. Apakah dia anak barunya?
            Mikha duduk di bangku depanku bersama gadis itu. Rasa kesal timbul dalam hatiku.
            “Mik,” panggilku pelan.
            “Ta, maaf banget aku enggak sempet ngabarin, biasa tugas dadakan. Maafin aku, ya?” mohon Mikha.
            “Iya aku maafin kok. Lain kali jangan gitu dong, aku jadi khawatir tahu. Eh, tapi biar aku maafin sepenuhnya Mik, ntar malem makan bareng yuk,” pintaku.
            “Oke deh, biar aku dimaafin sepenuhnya, haha,” Mikha mengiyakan.
*
Tita
“Eh, ke kantin, yuk, “ ajak Sonya, teman tapi mesranya si Mada.
            “Gue ngajak Kanya ya, biar rame sekalian kenalan,” kata Mada sambil menepuk pundak Kanya.
            Kami berenam, dengan formasi Mada-Sonya, Reuben-aku, dan Mikha-Kanya berjalan menuju kantin. Entah kenapa, aku jadi enggak mood. Reuben yang memperhatikanku, mulai kepo, “Lo napa lagi?”
            “Temenin gue yuk di kelas aja, tiba-tiba gue enggak enak badan,” aku menggandeng Reuben untuk berbalik arah, kembali ke kelas.
            “Eh, mau kemana, Ta?” tanya Mikha yang melihat aku berbalik arah.
            “Kelas.”
            Kemudian aku tak mendengarkan lagi apa yang Mikha tanyakan, aku ingin segera sampai kelas.
*
Reuben
Aku paling sedih kalau lihat Tita kayak gini. Kenapa Mikha enggak bisa ngertiin si Tita sih? Coba kalau aku bisa gantiin Mikha di hati kamu, Ta.
*
Mikha
Kurapikan lagi kemejaku, memastikan tidak ada yang kusut. Setelah kurasa keren, aku bergegas menuju markasku dan Tita sambil membawa gitar. Tempat pertama kali kita bertemu waktu kecil, di tengah-tengah halaman antara rumahku dan Tita.
Disana, kita selalu duduk bersama sambil cerita-cerita hal konyol sampai yang serius. Kadang aku memainkan gitar sambil bernyanyi, Tita berbaring di rumput sambil memejamkan matanya. Entah apa yang dia pikirkan.
Kulihat Tita sudah menungguku.
“Mik, lama amat sih,” protesnya begitu melihat kedatanganku.
“Maaflah, lagi persiapan biar cakep, ya nggak?” ujarku.
“Nggak usah diapa-apain juga, udah cakep Mik,” kata Tita, tersenyum.
Aku dan Tita duduk bersebelahan. Ia menyandarkan kepalanya dipundakku.
“Nyanyi dong,” pintanya pelan.
Kuambil gitar yang kuletakkan di sampingku. Aku mulai memetik senar demi senar gitar, mengalunkan lagu kesukaan kami berdua.
Aku cinta, aku takkan berdiam diri
Sampai kau mengerti
Aku cinta, dan tak mungkin ada akhirnya
Karena kaulah yang sempurna untukku
            “Yay, bagus, Mik. Makin lama suara kamu makin oke aja. Kenapa enggak ikut band aja? Jadi vokalis?” usul Tita sambil memandangku dengan wajah yang menggemaskan.
            “Apa sih, cuma suara gini doang di bilang bagus, malu kali, Ta,” tolakku. Aku memang enggak berminat dengan mengikuti band sekolah.
            “Cewek tadi, menurut kamu gimana?”
            “Kanya? Manis sih orangnya,” jawabku.
            “Oh gitu ya,” komentarnya singkat, sedikit nada kecewa terdengar.
            Kuhabiskan malam ini bersama sahabatku, Tita. Berbaring di rerumputan sambil memandangi jutaan bintang yang menghiasi langit malam. Menikmati malam yang indah ini bersama gadis yang aku selalu nyaman bersamanya. Tapi, entah mengapa, perlahan rasa nyaman itu memudar.
*
Tita
Ta, maaf banget enggak bisa berangkat bareng lagi. Mau nemenin Kanya keliling sekolah.
            Begitu isi pesan singkat yang kuterima pagi ini sebangun tidur. Tubuhku rasanya lemas, semangatku menghilang.
            Ini.
            Kabar buruk.
*
Tita
“Pagi Nona Cemberut,” sapa Reuben sambil terkekeh.
            “Hey, enak aja manggil gue Nona Cemberut,” aku menjitak kepala Reuben pelan. “Lo ntar malem ada acara enggak?”
            “Enggak tuh, kenapa?” tanya Reuben heran.
            “Jalan yuk, gue lagi butuh hiburan konyolnya elo,” ujarku jujur.
            “Wah, tumben-tumbenan nih. Dimana?” Reuben antusias banget.
            “Di Green Cafe ya, jam 7 malem, awas lo telat gue tabok,” ancamku sambil bercanda.
            “Oke, siap, Sayang. Nanti jam 7 tepat, gue jemput elo.”
            Setidaknya, aku bisa melupakan beban ini sejenak.
*
Reuben
Demi apa woy, Tita ngajak jalan! Hahaha, aku seneng banget sumpah. Mungkin ini bakal jadi waktu yang tepat buat ngomong ke dia. Oke, saatnya aku jemput cewek kesayanganku. Semoga malam ini berhasil!
*
Tita
Tin! Tin!
            Reuben datang.
            Kurapikan pakaianku sejenak, kemudian pamit dengan orang rumah. Huft, kenapa dag dig dug gini sih, padahal kan sama Reuben, bukan Mikha.
            “Hai Cantik, silakan masuk,” ujar Reuben tersenyum lebar, ia membukakan pintu mobil untukku.
            “Makasih, Ben,” aku tersipu dengan perlakuan Reuben yang enggak kayak biasanya ini, manis.
            “Langsung nih?”
            “Yap!”
*
Reuben
Gila, malem ini Tita lebih cantik dari biasanya. Aku sampai enggak bisa berhenti merhatiin dia, untung nyadar lagi nyetir. Oh iya, jangan sampai dia lihat ke belakang, ada sesuatu yang bakal aku kasih ke dia.
*
Tita
Green Cafe...
            Aku memilih tempat di taman, biar sejuk dan lebih romantis. Ah, alasan aja sih sebenernya. Disini tempatku sama Mikha kalau lagi nongkrong berdua.
            “Silakan memesan,” kata pelayan sembari memberikan kertas menu.
            “Ta, kamu tau nggak apa yang ada di menu?” tanya Reuben.
            “Apaan?” jawabku sambil membolak-balik menu.
            “Me n u,” ia menjawab pertanyaannya sendiri.
            Entah mengapa, aku senyum-senyum mendengarnya. Kalau kuperhatikan, Reuben sering banget ngegombal kayak gini. Tapi kayak enggak sekedar ngegombal gitu aja. Ah, apa sih Ta, ge-er banget.
            “Kamu mau pesen apa?” tanya Reuben lembut. Ada yang beda lagi, dia pakai aku-kamu.
            “Gue sama kayak yang elo pesen aja deh.”
            “Oke. Nasi goreng sama air mineralnya dua ya, mbak,” pesannya kepada pelayan. Setelah mencatat pesanan, pelayan tersebut pergi.
            “Ta, maaf ya kalau aku abis. Beberapa hari ini kamu sedih mulu, kenapa sih?” Reuben memulai percakapan.
            “Mikha kayaknya naksir Kanya, deh. Dia beda, kayaknya ada jaraknya gitu,” ceritaku singkat.
            “Yaelah, Mikha lagi. Sabar aja Ta, masih banyak kok yang sayang sama kamu, aku misalnya,” kata Reuben sambil menunduk.
            “Iya, lo mah emang sayang gue selalu dan selamanya kan? Hahaha...”
*
Reuben
            “Iya, lo mah emang sayang gue selalu dan selamanya kan? Hahaha...”
            Andai kamu ngerti Ta, sayang yang aku maksud. Lebih dari sayang yang kamu tahu.
*
Tita
“Eh, Ta, aku mau ngomong,” Reuben gugup. Tumben nih anak mau ngomong bilang segala.
            “Ngomong aja kali,” kataku santai sambil membuka ponselku.
            “Aku mau ngomong serius sama kamu, Ta. Jadi gini. Kita kan udah kenal dari lama banget. Kamu itu sahabat aku bangetlah, bahkan lebih, Ta. Aku tahu, sulit banget buat kamu lupain Mikha. Tapi aku harap, masih ada kesempatan buat aku, walaupun kemungkinan itu kecil. Kamu mau...”
            Sungguh, aku enggak bisa konsentrasi mendengarkan apa yang Reuben bilang, fokusku sekarang tengah tertuju ke status Line Mikha.
Kanya Kavarisa.
Ini apa...
“Ben, gue mau pulang. Sekarang,” aku beranjak dari tempat duduk dan menuju parkiran.
Reuben melongo, “Hei, kenapa?”
Kuabaikan pertanyaannya.
Aku patah hati.
*
Reuben
Aku enggak tahu Tita kenapa. Apa karena aku terlalu jujur atau ada hal lain yang mengusik dia. Yang jelas, malam ini gagal.
*
Tita
“Ben, maaf banget ya jadi berantakan. Tiba-tiba gue enggak enak badan. Mungkin bisa lain kali,” kataku sambil berusaha menahan tangis yang rasanya ingin segera tumpah.
            “Iya, enggak apa-apa. Aku selalu ada buat kamu, Ta, kapan pun kamu butuh, inget itu. Kamu baik-baik ya. Istirahat yang cukup, jangan sampai sakit,” pesannya lembut. “Aku pulang dulu, ya.”
            Tampak seulas kekecewaan di wajah Reuben. Tapi apa yang Reuben rasain, mungkin enggak separah apa yang aku rasain.
*
Tita
Pagi ini aku sengaja bangut siar biar telat masuk sekolah, biar sekalian di hukum dan enggak masuk kelas. Aku masih belum siap, lihat Mikha sama cewek lain.
*
Reuben
Semalam ponselku baterainya habis, jadi enggak bisa buka info terbaru. Baru pagi ini ngebuka ponsel dan aku tahu apa penyebabnya Tita semalem kayak gitu. Bel masuk sudah berbunyi, dan dia belum dateng. Tita, lo kemana?
*
Tita
“Maaf bu, saya telat,” aku ngos-ngosan.
“Tita, tumben kamu telat. Ya sudah, sana duduk,” perintah Bu Mira.
            Aku mencuri pandang ke arah Mikha. Ia juga sedang memandangku, uh...
            “Kamu kok bisa telat, Ta? Kamu sakit? Aku kan bisa jemput kamu. Aku khawatir tahu,” tutur Reuben setibanya aku duduk di bangku sebelahnya.
            “Santai aja kali, Ben, haha,” aku menjulurkan lidah.
            “Matamu sembab.”
            “Ben...”
            “Apa?”
            “Kita diperhatiin Bu Mira tahu.”
*
Tita
“Tita,” panggil seseorang yang berdiri di sampingku.
            Mikha.
            “Kamu kenapa?” tanyanya polos.
            “Aku enggak apa-apa kok, Mik. Oh ya, selamat ya, aku ikut seneng kok, hehe,” napasku sesak, menahan amarah.
            “Aku tahu, kamu ada apa-apa, Ta. Kamu paling enggak bisa bohong sama aku. Kamu kenapa?” Mikha menekanku untuk menjawab.
            “Kamu mau tahu aku kenapa?” aku mulai geram. “Aku sayang sama kamu, Mik. Lebih dari sayangnya seorang sahabat.”
            Aku beranjak dari kursiku, meninggalkannya yang terpaku.
            “Tita, aku...,”
            “Udah, Mik,” Mada mencegah Mikha untuk mengejarku. “Ben, kejar Tita.”
*
Tita
Kuusap air mataku yang mulai mengucur deras. Aku enggak tahu mau kemana, kubiarkan kakiku terus melangkah membawaku pergi menjauh dari segala situasi yang aku benci ini.
            “Tita...”
            Aku menoleh.
            Reuben.
            “Aku pernah bilang, aku selalu ada buat kamu, kapan pun kamu butuh,” ujar Reuben lembut.
            “Lo tau kan, dari gue kecil gue udah sayang sama Mikha. Mikha selalu jadi penyemangat gue. Tapi sekarang apa?” aku sesenggukan. “Di saat-saat kayak gini, gue butuh banget lo sama Mada. Mada yang udah gue anggep kayak abang gue sendiri, yang dulu perhatian banget sama gue, sekarang udah enggak terlalu karena dia udah punya cewek. Dan lo, Ben, satu-satunya yang gue harapin,” kataku sambil terisak.
            Reuben merengkuhku dalam pelukannya.
            “Kamu jangan nangis,” ia mengusap lembut air mata yang berjatuhan di pipiku. “Aku emang bukan Mikha dan selamanya aku enggak bakal bisa sama kayak dia. Tapi yang aku bisa dan akan selalu aku sanggupi, aku akan selalu sayang dan ngelindungin kamu, Ta,” bisik Reuben di telingaku.
            “Ben...,” tangisku tambah pecah dalam pelukannya.
            “Apa pun yang terjadi, Ta. Asal kamu tahu, aku pastiin aku akan ada untuk kamu, selalu.”
            “Makasih, makasih banget, Ben. Aku baru sadar, ternyata mungkin selama ini aku salah orang. Seharusnya aku peka sama perasaanmu, Ben. Aku baru sadar juga, jauh di dalam lubuk hatiku, aku juga sayang kamu,” ujarku pelan, tangisku mereda.
            “Aku sayang kamu, Tita.”
            “Aku juga sayang kamu, Reuben.”
            Aku tenggelam dalam pelukannya, lebih dalam lagi.

edited by Nooriftita Rizky
Wednesday, September 16th, 2015
08.45 pm